pneumonia
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
latar Belakang
Saat ini
banyak sekali penyakit yang baru pada saluran pernafasan dan penyebabnya
bermacam –macam, ada di sebabkan oleh virus, bakteri dan lain sebagainya.
Dengan phenomena ini harus menjadi perhatian bagi kita semua. Salah satu
penyakit pada saluran pernafasan adalah pneumonia. Penyakit pneumonia sering
kali di derita sebagian besar orang yang lanjut usia(lansia) dan mereka yang
memiliki penyakit kronik sebagian akibat rusaknya system kekebalan tubuh
(imun), akan tetapi pneumonia juga bisa menyerang kalangan muda yang bertubuh
sehat. Saat ini di dunia penyakit pneumonia di laporkan telah menjadi penyakit
utama di kalangan kanak-kanak dan merupakan satu penyakit serius yang merengkut
nyawa beribu-ribu warga tua setiap tahun.(Jeremy,dkk,2007,hal76-78)
1.2
Rumusan masalah
1.
Apa itu
pneumonia?
2.
Apa saja tanda
dan gejalanya?
3.
Apa itu
pemeriksaan diagnostic?
4.
Bagaimana
penanganannya?
5.
Asuhan
keperawatan ?
6.
Apa itu terapi
modalitas?
1.3
Tujuan penulisan
1.
Apa itu
pneumonia?
2.
Apa saja tanda
dan gejalanya?
3.
Apa itu
pemeriksaan diagnostic?
4.
Bagaimana
penanganannya?
5.
Asuhan
keperawatan ?
6.
Apa itu terapi
modalitas?
1.4
Manfaat Penelitian
Semoga makalah kelompok kami yang berjudul
“Asuhan keperawatan pneumonia pada
lansia” dapat bermanfaat khususnya bagi kelompok dan semua orang yang
membacanya, serta dijadikan sebagai pembelajaran untuk menambah wawasan dan
ilmu pengetahua
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Defenisi
Pneumonia adalah infeksi akut parenkim
paru yang biasanya merusak pertukaran gas, yang dapat di klasifikasikan dalam
beberapa cara. Bergantung pada etiologi mikrobiologinya, pneumonia dapat di
klasifikasikan menjadi pneumonia yang di sebabkan oleh virus, bakteri, jamur,
protozoa, mikrobakteria, mikoplasma, atau riketsia. Berdasarkan lokasinya,
pneumonia dapat diklasifikasikan menjadi bronkopneumonia, pneumonia lobular,
atau pneumonia lobaris. Bronkopneumonia mengenai jalan nafas distal dan
alveoli; pneumonia lobularis, sebagian dari lobus; dan pneumonia lobaris,
seluruh lobus.
Infeksi tersebut juga dapat
diklasifikasikan sebagai satu dari tiga tipe: primer, sekunder, atau pneumonia
aspirasi. Pneumoniaprimer merupakan akibat langsung dari inhalasi atau aspirasi
patogen, seperti bakteri atau virus; ini termasuk pneumokokus dan pneumonia
virus. Pneumonia sekunder dapat terjadi setelah ada kerusakan awal pada paru
akibat bahan kimia yang berbahaya atau kejadian kerusakan lain (superinfeksi),
atau ini dapat akibat dari penyebaran bakteri melalui darah dari area yang
jauh. Pneumonias aspirasi akibat dari inhalasi benda asing, seperti muntahan
atau partikel makanan, kedalam bronkus.
Pneumonia menyerang kedua jenis
kelamin dan di semua usia. Lansia memiliki risiko yang lebih besar mengalami
pneumonia karna melemahnya otot dada yang mengurangi kemampuan mereka untuk
mengeluarkan sekresi. Mereka yang dirawat di fasilitas perawatan jangka panjang
sangat rentan mengalaminya. Prognosis infeksi tersebut baik untuk pasien paru
normal dan sistim imun adekuat. Akan tetapi, pneumonia bakteri merupakan
penyebab kematian terbanyak pada pasien yang lemah. Pneumonia juga merupakan
penyebab kematian terbanyak akibat penyakit infeksi di amerika serikat.
Penurunan respon imun dan penurunan
mobilitas pada lansia meningkatkan kecenderungan mereka mengalami pneumonia.
Faktor-faktor predisposisi lainnya meliputi penyakit kronis dan kelemahan,
kanker (khususnya kanker paru), pembedahan abdomen dan toraks, atelektasis, flu
dan infeksi pernapasan virus lainnya, penyakit pernafasan kronis, influenza,
merokok, malnutrisi, trakeostomi, terpajan gas yang berbahaya, aspirasi, serta
terapi imunosupresif. Pneumonia aspirasi terjadi pada lansia atau individuyang
sangat lemah, lansia yang mendapatkan pemberian makanan melalui selang
nasogastrik (NG), dan lansia yang mengalami kerusakan refleks menelan, higiene
oral buruk, atau penurunan tingkat kesadaran.
Pneumonia bakteri adalah tipe
pneumonia yang paling umum di temukan pada lansia;pneumonia virus, merupakan
tipe terbanyak kedua. Pada pneumonia bakteri, yang dapat terjadi di bagian paru
manapun, suatu infeksi yang awalnya memicu inflamasi dan edema pada alveolar.
Kapiler menjadi bengkak penuh dengan darah, yang menyebabkan stasis. Ketika
terjadi kerusakan membran kapiler alveolar, alveoli terisi dengan darah dan
eksudat, yang menyebabkan atelektasis. Pada beberapa infeksi bakteri dan
sindrom distres pernapasan akut (acute respiratory distress syndrome, ARDS ), paru menerima
beban yang berat, penampilannya seperti hati.
Inveksi virus, yang biasanya
menyebabkan pneumonia difus, pertama kali menyerang sel-sel epitel bronkial,
yang menyebabkan inflamasi dan deskuamasi interstial. Kemudian infeksi ini
menyebar ke alveoli, yang terisi dengan darah dan cairan. Pada infeksi lanjut,
dapat terbentuk membran hialin. Seiring dengan infeksi bakteri, pneumonia virus
berat dapat menyerupai ARDS secara kliniks.
Kerusakan kemampuan menelan dan
penurunan refleks menelan menyebabkan lansia sangat beresiko mengalami
pneumonia aspirasi. Perubahan ini dapat terjadi setelah kecelakaan pada
serebrovaskular atau penyakit yang lama. Pada pneumonia aspirasi, aspirasi
cairan lambung atau makanan memicu perubahan inflamatorik serupa dan juga
menoknatifkan surfaktan pada daerah paru yang luas. Penurunan surfaktan
menyebabkan kolaps alveolar. Cairan lambung yang asam dapat secara langsung
merusak jalan nafas dan alveoli. Partikel dengan materi yang teraspirasi dpat
menyumbat jalan nafas dan mengurangi aliran udara, yang pada akhirnya
menyebabkan pneumonia bakteri sekunder.
Tanpa pengobatan yang tepat,
pneumonia dapat menyebabkan komplikasi yang mengancam jiwa seperti syok seftik,
hipoksemia, gagal nafas, dan ARDS. Infeksi tersebut juga dapat menyebar dalam
paru pasien, yang menyebabkan empiema atau akses paru. Atau infeksi ini dapat
menyebar dengan cara melalui aliran darah atau dengan kontaminasi silang atau
melalui bagaian tubuh lainnya, yang menyebabkan bakteremia, endokarditis,
perikarditis, atau menginitis.
2.2 Tanda dan gejala
Ø Keletihan
Ø Batuk
ringan
Ø Nyeri
pleuritik (mungkin tidak sehebat pada orang yang lebih muda)
Ø Frekuensi
pernapasan cepat
Ø Takikardi
Ø Demam
(atau, biasanya pada lansia, suhu sub normal)
Ø Gemetar
Ø Batuk
produktif (sputum berwarna kuning krim yang menunjukan peumonia stafilokokus,
sputum hijau yang menandakan infeksi pseudomanas, yang terlihat seperti jeli
buah kering biasanya mengindikasikan tidak ada infeksi)
Ø Konfusi,
kegelisahan, dan perubahan perilaku (akibat hipoksia serebral)
Ø Suara
redup ketika anda melakukan perkusi (pneumonia lanjut)
Ø Krekels,
mengi, atau ronki di paru yang sakit serta penurunan bunyi nafas dan penurunan
fremitus vokal.
2.3 Pemeriksaan diagnostik
Ø Sinar-X
dada menunjukan adanya infiltrat, yang memastikan diagnosis.
Ø Pewarnaan
gram dan biakan serta uji sensitivitas menunjukan bakteri sebagai penyebab
infeksi. Karna perubahan yang terkait usia pada sistem pernapasan, pengambilan
spesimen sputum yang adekuat pada lansia sering kali lebih sulit dilakukan.
Ø Biarkan
darah mendeteksi bakteremia dan membantu menentukan organisme penyebab
Ø Pemeriksaan
darah dapat memperlihatkan peningkatan hitung sel darah putih (SDP) pada
pneumonia bakteri dan hitung SDP normal atau rendah pada pneumonia virus atau
mikoplasma. Pada beberapa lansia, hitung SDP dapat berada dalam rentang normal.
Perhatikan apakah ada peningkatan hitung sel batang pada pemeriksaan
deferensial sebagai indikator terbaik adanya infeksi bakteri.
Ø Kadar
gas darah arteri bervariasi, bergantung pada keparahan pneumonia dan keadaan
paru yang mendasari
Ø Bronkoskopi
atau aspirasi transtrakeal memungkinkan pengumpulan material untuk studi
biakan. Akan tetapi, prosedur invasif, menimbulkan risiko terbesar bagi lansia,
khususnya jika ia lemah dan tidak kooperatif
Ø Oksimeter
nadi dapat menunjukan penurunan kadar saturasi oksigen arteri.
2.4 Penanganan
Terapi
antimikroba bergantung pada agens penyebab. Dokter akan memilih agens
antimikroba awal, yang bergantung pada apakah ia meyakini bahwa pneumonia akan
di peroleh dari masyarakat atau nosokomial.
Ketika hasil biakan telah tersedia, ia dapat mengganti obat tersebut
untuk di sesuaikan dengan laporan hasil pemeriksaan sensitivitas
Tindakan suportif yang dilakukan
meliputi diet tinggi kalori dan asupan cairan yang adekuat; tirah baring;
terapi oksigen yang di lembabkan untuk hipoksia; bronkodilator, antitusip, dan
ventilasi mekanik untuk gagal nafas; dan anlgesik untuk meredakan nyeri dan
pleuritik. Pasien yang menderita pneumonia berat yang memakai ventilasi mekanis
dapat memerlukan tekanan pernapasan berakhiran posisitf untuk memperthankan
oksigenisasi adekuat.
BAB III
Asuhan keperawatan
PENGKAJIAN
Biodata
/ Data Biografi
Identitas Klien:
Nama : An.
E
Umur : 59 tahun
Suku/bangsa : Jawa Status
Perkawinan : -
Agama : Islam
Pendidikan : -
Pekerjaan : -
Alamat : jl.Cimanuk
Tanggal masuk RS : 25 Mei 2012
Tanggal Pengkajian : 26
Mei 2012
Catatan kedatangan : Kursi roda ( ), Ambulan ( ), Brankar (
√ )
Riwayat Kesehatan/keperawatan
Keluhan
utama/alasan masuk RS
An E (59 th)
datang ke RS dr. M. Yunus Bengkulu pada tanggal 25 Mei2012, jam 10.20
wib dengan keluhan batuk berdahak dan sesak napas.
Riwayat Kesehatan Sekarang (RKS) :
Faktor
pencetus: Orang tua anak mengatakan sesak napas didahului oleh batuk pilek
seminggu sebelum masuk RS.
Muncul
keluhan ( ekaserbasi) : Orang tua anak mengatakan sesak napas sejak 6hari
sebelum masuk RS.
Sifat
keluhan : Orang tua anak mengatakan sesak napas timbul perlahan-lahan,sesak
napas terus menerus dan bertambah dengan aktivitas.
Berat
ringannya keluhan : Orang tua anak mengatakan sesak napas
cenderung bertambah sejak 2 hari sebelum masuk RS.
Upaya
yang telah dilakukan untuk mengatasi : Orang tua anak mengatakan upayauntuk
mengatasi sesak adalah dengan istirahat dan minum obat batuk ( OBH ).
Keluhan
lain saat pengkajian : Orang tuan anak juga mengatakan batuk dengandahak yang
kental dan sulit untuk dikeluarkan, sehingga terasa lengket
ditenggorokkan. Orang tua anak mengatakan kesulitan bernapas.Orang tua anakmengutarakan
kondisi badan anak nya terasa lemah dan ujung - ujung jarinyaterasa
dingin.
Riwayat Kesehatan Dahulu (RKD) :
Kebiasaan
menjelang tidur : -
Masalah
tidur (insomnia, terbangun dini, mimpi buruk): Insomnia
Lain-lain
(merasa segar/tidak setelah bangun) : merasa segar
Pola
Kognitif Dan Persepsi
Status
mental (sadar/tidak, orientasi baik/tidak) : orientasi baik
Bicara
:
Normal
(√), tak jelas (
), gagap ( ), aphasia ekspresif ( )
Kemampuan
berkomunikasi : Ya (
√ ),
tidak (
)
Kemampuan
memahami : Ya (
√
), tidak ( )
Pendengaran
:
DBN ( √
), tuli ( ), kanan/kiri, tinnitus ( ), alat bantu dengar( )
Penglihatan
(DBN, buta, katarak, kacamata, lensa kontak, dll) : DBN
Vertigo
: Ada
Ketidak
nyamanan/nyeri (akut/kronik) : Pasien mengalami nyeri akut pada daerahdada
Penatalaksanaan
nyeri : Pasien beristirahat untuk mengurangi nyeri
Lain-lain
: -
Persepsei
Diri Dan Konsep Diri
Perasaan
klien tentang masalah kesehatan ini : Pasien merasa tidak nyaman
Lain-lain
: -
Pola Peran Hubungan
Pekerjaan
: -
Sistem
pendukung : pasangan (√
), tetangga/teman ( ), tidak ada ( ),keluarga
serumah
(√),
keluarga tinggal berjauhan (
)
Masalah
keluarga berkenaan dengan perawatan di RS : Tidak ada
Kegiatan
sosial :
Sejak
menderita penyakit pneumonia pasien jarang bergaulo dengan
temansebaya nya.
Lain-lain
:
Pola Seksual Dan Reproduksi

Masalah
seksual b.d penyakit : -
Pola
koping dan toleransi stress
Perhatian
utama tentang perawatan di RS atau penyakit (financial, perawatan diri): Pasien
tidak mengalami kesulitan mengeanai biaya perawatan rumah sakit.
Kehilangan/perubahan
besar dimasa lalu : tidak ada
Hal
yang
dilakukan saat ada masalah (sumber koping) : pasien bersifat terbukaterhadap
masalahnya
Penggunaan
obat untuk menghilangkan stress : tidak ada
keadaan
emosi dalam sehari-hari (santai/tegang) : tegang
lain-lain
: -
Keyakinan
agama dalam kehidupan
Agama :
Pasien beragama Islam
Pengaruh
agama dalam kehidupan : Pasien beranggapan bahwa penyakit yangdideitanya adalah
cobaan.
Pemeriksaan
Fisik
Keadaan
umum : Klien tampak lemah, klien tampak kesulitan bernapas dan klientampak
gelisah. -
BB : 10
kg (turun 2 kg dari 60 kg menjadi 58 kg ) -
TB : 70
cm
TTV : -
TD :
130 / 90 mmHg -
ND
: 120 x / i -
RR : 32
x / i -
S : 39 ºC
Sistem
integumen (kulit) : turgor kulit buruk (tidak elastis) dan pucat
Kepala
: Simestris dan rambut warna hitam, tidak ada ketmbe, bersih.
Mata :
DBN, konjuntiva tidak anemis,ukuran pupil normal.
Telinga
: DBN
Kuku :
Kuku pucat dan sedikit sinosis
Hidung
: Pernapasan cuping hidung

Mulut :
Mukosa bibir kering dan pucat
Thorak
/paru -
Inspek
: RR : 32x/i, penggunaan otot bantu pernapasan (+), takipnea
(+),dispnea(+),pernapasan dangkal, dan rektrasi dinding dada tidak
ada. -
Palpasi
: fremitus menurun pada kedua paru -
Perkusi
: redup -
Auskultrasi
: bunyi napas bronkial, krekels (+),stridor (+).
Vaskular
periper : akral dingin, capilarry repille kembali dalam 5 detik
Pemeriksaan
Penunjang
Hasil
foto rontgen : menunjukkan infiltrasien lobaris (sebagianlobus pada
kedua paru).
AGD
:menunjukkan alkalosis respiratorik (pH naik,PCO2 turun,HCO3 normal)
Pemeriksaan
sputum: ditemukan kuman Stapilococcus aureus dan Diplococcus pneumonia
Pemeriksaan
darah rutin didapatkan :
Leokosit
= 16.000/mm3
Hb =
10,5 gr/dl
Trombosit
=265.000/mm3
Hematokrit
= 44%
Albumin
= 3,01 gr/dl
Protein total
= 5,86 gr/dl
3.1 Diagnosa keperawatan utama dan Kriteria hasil
Risiko
infeksi yang berhubunga dengan Potensi sepsis, abses paru, dan komplikasi lain
Kriteria hasil tindakan : pasien akan tetap terbebas
dari tanda dan gejala infeksi sekunder tau disfungsi jantung dengan mematuhi
terapi yang telah di programkan.
Kerusakan
Pertukaran gas yang berhubungan dengan infeksi aut pada parenkim paru
Kriteri hasil tindakan : pasien akan mempertahankan
frekuensi pernapasan dalam 5 kali napas dari batas dasar dan akan mencapai
kembali nilai gas darah arteri yang normal.
Ketidakefektifan
bersihan jalan napas yang berhubungan dengan produksi sputum yang kental
Kriteria hasil tindakan : pasien akan mempertahankan
jalan napas paten dengan membatukan dan mengeluarkan sputum dengan efektif.
3.2 Intervensi keperawatan
Ø Berikan
antibiotic yang telah diresepkan dan obat-obatan lainya. Sesuai program, serta
evaluasi keefektifannya. Periksa aoakah terjadi reaksi merugikan pada pasien.
Ø Pantau tanda-tanda vital dan atasi demam dengan
analgesic.
Ø Kaji status pernapasan pasien. Auskultasi bunyi napas
minimal setiap 4 jam.
Ø Berikan lingkungan yang tenang dan tidak bising dengan
periode istirahat yang sering
Ø Pantau kadar analisa gas drah, khususnya jika pasien
mengalami hipoksia.Berikan oksigen tambahan jika tekanan oksigen parsial pasien
dalam darah arteri di bawah 60 mm Hg
Poin penting jika lansia
yang menderita pneumonia membutuhkan oksigen, berikan dengan hati-hati. Kadar
oksigen tinggi dapat menekan stimulus pernapasan dalam otak, yang menurunkan
pernapasan dan meningkatkan retensi karbondioksida. Pasien lansia mengalami penurunan
batuk dan reflex menelan, melemahnya otot pernapasan, dan penurunan kapasitas
pernapasan maksimum. Karena obat sedative, supresan batuk, dan narkotik menekan
laju pernapasan dan batuk serta reflex menelan, penggunaan obat-obatan tersebut
sering kali kontraindikasi pada pasien ini.
Ø Berikan
diet makanan lunak yang tinggi kalori dan tinggi protein untuk mengompensasi
kalori pasien yang di gunakan untuk melawan infeksi. Untuk meningkatkan asupan,
berikan suplemen nutrisi di antara waktu makan.
Ø Jika
pasien sangat lemah, tambahkan pemberikan makan oral dengan pemberian
makanan melalui selang NG atau nutrisi
parenteral. Untuk mencegah aspirasi selama pemberian makanan dengar perlahan.
Jangan memberikan makanan dengan volume besar pada satu waktu karena tindakan
ini dapat menyebabkan muntah.
Komentar
Posting Komentar